Kamis, 18 September 2014

Kasih ibu tak terhingga









Seorang anak bertengkar dengan ibunya & meninggalkan rumah. Saat berjalan ia baru menyadari bahwa ia sama sekali tidak membawa uang. Ia melewati sebuah kedai bakmi. Ia ingin sekali memesan semangkok bakmi karena lapar.

Pemilik bakmi melihat anak itu berdiri cukup lama di depan kedainya, lalu bertanya”Nak, apakah engkau ingin memesan bakmi?”
“Ya, tetapi aku tidak membawa uang,”jawab anak itu dengan malu-malu.”Tidak apa-apa, aku akan mentraktirmu,”jawab si pemilik kedai.

Anak itu segera makan. Kemudian air matanya mulai berlinang.”Ada apa Nak?”Tanya si pemilik kedai.”Tidak apa-apa, aku hanya terharu karena seorang yg baru kukenal memberi aku semangkuk bakmi tetapi ibuku sendiri setelah bertengkar denganku, mengusirku dari rumah. Kau seorang yang baru kukenal tetapi begitu peduli padaku.

Pemilik kedai itu berkata”Nak, mengapa kau berpikir begitu? Renungkan hal ini, aku hanya memberimu semangkuk bakmi & kau begitu terharu…. Ibumu telah memasak bakmi, nasi, dll sampai kamu dewasa, harusnya kamu berterima kasih kepadanya.

Anak itu kaget mendengar hal tersebut.”Mengapa aku tidak berpikir tentang hal itu?”

Untuk semangkuk bakmi dari orang yang baru kukenal aku begitu berterima kasih, tetapi terhadap ibuku yang memasak untukku selama bertahun-tahun,aku bahkan tidak peduli.

Anak itu segera menghabiskan bakminya lalu ia menguatkan dirinya untuk segera pulang. Begitu sampai di ambang pintu rumah, ia melihat ibunya dengan wajah letih & cemas. Ketika melihat anaknya, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah “Nak, kau sudah pulang, cepat masuk, aku telah menyiapkan makan malam.”

Mendengar hal itu, si anak tidak dapat menahan tangisnya & ia menangis di hadapan ibunya.

    Kadang kita mungkin akan sangat berterima kasih kepada orang lain untuk suatu pertolongan kecil yg diberikannya pada kita. Namun kepada orang yang sangat dekat dengan kita (keluarga) khususnya orang tua kita, kita sering melupakannya begitu saja.




Produk :


ingin masuk kondisi releksasi mental dan pikiran yang dalam dan menyenangkan . Klik disini

Rabu, 17 September 2014

Memaafkan itu indah dan membahagiakan






Banyak penderitaan dan nyeri fisik yang berakar dimasa lalu. Mungkin kejadiannya hanya sebuah ucapan orang lain bahwa kita tak cukup cantik dan fisik yang kurang (kurus / kurang berat badan, pendek).
Kebanyakan kita merasa lebih baik meninggalkan ingatan di masa lalu seperti itu dan kita merasa baik–baik saja kecuali bila ingatan masa lalu itu sampai saat ini terus saja mengikuti Anda dan sangat berpengaruh pada cara berpikir dan bertindak saat ini. Jika begitu masalahnya, mungkin sudah saatnya anda untuk membereskan masa lalu anda.

Membereskan masa lalu biasanya berarti memaafkan seseorang atas ke tidak adilan atau kesalahannya yang kita anggap telah mereka ‘lakukan’ terhadap diri kita. Itu jauh lebih mudah mengucapkannaya ketimbang melakukannya, tetapi hasilnya akan sepadan. Memaafkan kini sebagai suatu ‘cara baru yang populer’ untuk mengendalikan rasa marah, mengurangi stres dan memulihkan kesehatan.

Sudah banyak dan makin banyak saja buku yang ditulis tentang belajar memaafkan. Banyak yang memuat kisah-kisah yang menyentuh hati, seperti kisah Presiden Nelson Mandela, yang setelah dua puluh tujuh tahun dipenjarakan karena keyakinan politiknya, mengundang para pengawal penjaranya ke acara peresmiannya sebagai Presiden Afrika Selatan. Tak terhitung lagi banyaknya yang telah diperlakukan secara tidak adil yang telah melaporkan bahwa mereka tidak dapat merasakan ketenangan sampai mereka dapat memaafkan.
Penulis Catherine Ponder mengatakan bahwa memaafkan bisa dijadikan tehnik untuk menjadi kaya raya. Pada intinya memaafkan itu memberi manfaat yang jauh lebih luas sehingga tampaknya kita semua mestinya menerapkannya setiap hari.

Saya memutuskan untuk mencobanya, ketika saya disakiti, itu membuat saya membenci mereka. Dan saya tak pernah yakin apakah saya akan memaafkan mereka. Namun jauh di dalam hati, saya tahu bahwa memaafkan seseorang tidak berarti apa yang mereka lakukan itu baik-baik saja atau kita seharusnya membiarkan saja bila diperlakukan secara tidak adil. Memaafkan berarti menghentikan perasaan sebagai korban dan berhenti menjadikan orang lain bertanggung jawab terhadap kehidupan kita.
Penelitian telah menemukan bahwa memaafkan dapat mengurangi nyeri punggung, mengurangi stres hingga separuhnya, meningkatkan energi dan memulihkan suasana hati, tidur dan vitalitas fisik secara menyeluruh.


Namun, bagi seorang penulis bernama Susan Brandis Slavin, membereskan masa lalunya berkaitan dengan sesuatu yang lebih mendalam daripada gejala-gejala fisik. Sebagaimana kisah-kisahnya seputar memaafkan, kisahnya menggambarkan dengan tepat kebenaran ucapan yang sering dikutip sebagai ucapan Corrie ten Boom “Memaafkan adalah membebaskan orang yang dipenjarakan dan menyadari bahwa yang terpenjarakan itu adalah diri anda sendiri.



Produk  :


Ingin masuk kondisi releksasi fisik dan mental yang dalam dan menyenangkan , Klik disini